• Sunday, 24 September 2017

Panglima TNI Jenderal (purn.) Dr. Moeldoko

By , Siapalagi.com,
Hari ini

Jenderal TNI (Purn.) Dr. Moeldoko lahir di Kediri, Jawa timur, 8 Juli 1957; umur 58 tahun adalah tokoh militer Indonesia. Ia menjabat sebagai Panglima TNI sejak 30 Agustus 2013 hingga 8 juli 2015. Ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Staff TNI Angkatan Darat sejak 20 Mei 2013 hingga 30 Agustus 2013.

23-05-13_bonpas_01

            Jenderal Moeldoko berjabat tangan dengan Persiden Susilo Bambang Yudhoyono selesai pelantikan dirinya menjadi Panglima TNI di istana                       presiden RI.

Membantu menyediakan pasir dan batu yang diangkut dari pinggir kali menjadi rutinitasnya setiap hari seusai pulang sekolah. Selain terlibat langsung mengatur datangnya truk pengangkut material, Moeldoko yang saat itu berperawakan kecil itu tidak canggung bersama para buruh membelah batu yang sedianya disiapkan untuk proyek plengsengan Ploso-Braan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Singkat riwayat, sejak kecil ia seorang pekerja keras. Selalu berkeringat, cekatan dan nyaris tak pernah melipat jemari tangan. Semua dikerjakannya. Apa yang bisa menopang kebutuhan keluarga dilakukanya. Maklumlah, kedua orangtuanya bukan berasal dari golongan ekonomi mapan. Hidup orang tuanya susah dan jauh dari perkotaaan.
Saat menginjak sekolah dasar, gedung sekolahnya sering dilanda banjir, sehingga ia harus berpindah ke pengungsian tiap kali air menggenangi tempatnya menimba ilmu. Ia pun mengaku pernah mengalami kelaparan lantaran orang tuanya tak mampu membeli segenggam beras untuk mengisi perut Moeldoko kecil.

Saat duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), ia berjalan kaki ke stasiun dan naik kereta untuk sampai ke sekolah setiap harinya. Meski teman-temannya saat itu sudah memiliki sepeda, ia tidak merasa kecil hati. Kokok ayam dan awan gelap menjadi saksi sang Panglima kecil berlari-lari mengejar kereta.
“Waktu sekolah SMP itu sepeda nggak punya, saya harus naik kereta api, jauh dan lari-lari. Dari jam 04.00 pagi saya sudah lari-lari. Pulangnya saya itu nyari boncengan atau menunggu truk yang searah ke kampung saya,” urai Moeldoko mengenang masa kecilnya saat mengadakan buka puasa bersama 3.000 anak yatim piatu se-Jabodetabek di Gelanggang Olahraga Ahmad Yani, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis 9 Juli 2015.
Ia pun menyunggingkan senyum saat mengingat ulahnya saat menumpang truk. Moeldoko mengaku, ia sering mencuri buah kopra di tengah perjalanan pulang untuk mengisi perutnya yang keroncongan.
Bocah lugu, polos yang hidup serba kekurangan puluhan tahun silam itu kini berdiri gagah sebagai jendral berbintang. Moeldoko (58) namanya.
“Saat Moeldoko masih berada dalam kandungan, bapak dan ibu berpuasa hingga 40 hari. Orang tua berharap kelak anaknya bisa menjadi orang besar,” tutur Haji Muhammad Sujak (76), kakak kandung Jendral Moedoko kala di rumahnya di Desa Pesing.

112011_odilantikjadipanglima

          Pengambilan Sumpah terhadap Jenderal TNI Moeldoko di istana presiden.

Sidang Paripurna DPR-RI pada tanggal 27 Agustus 2013 menyetujui jenderal asal Kediri tersebut sebagai Panglima TNI baru pengganti Laksamana Agus Suhartono. Ia adalah KSAD terpendek dalam sejarah militer di Indonesia seiring pengangkatan dirinya sebagai panglima.

Moeldoko merupakan alumnus Akabri tahun 1981 dengan predikat terbaik dan berhak meraih penghargaan bergengsi Bintang Adhi Makayasa. Selama karier militernya, Moeldoko juga banyak memperoleh tanda jasa yaitu Bintang Dharma, Bintang Bayangkara Utama, Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, Satya Lencana Dharma Santala, Satya Lencana Kesetiaan XXIV tahun,  Satya Lencana Kesetiaan XIV tahun, Satya Lencana Kesetiaan VIII tahun, Satya Lencana Sejora, Satya Lencana Wira Dharma, dan Satya Widya Sista.

Operasi militer yang pernah diikuti antara lain Operasi Sejora Timor-Timur tahun 1984 dan Konga Garuda XI/A tahun 1995. Ia juga pernah mendapat penugasan di Selandia Baru (1983 dan 1987), Singapura dan Jepang (1991), Irak-Kuwait (1992), Amerika Serikat, dan Kanada.

1393825526

            Panglima TNI Jenderal Moeldoko sedang mengecek kesiapan dan kesigapan prajuritnya.

Pada 15 Januari, Moeldoko meraih gelar Doktor Program Pascasarjana Ilmu Administrasi FISIP Universitas Indonesia, dengan desertasinya berjudul “Kebijakan dan Scenario Planning Pengelolaan Kawasan Perbatasan di Indonesia (Studi Kasus Perbatasan Darat di Kalimantan)”. Ia lulus dan mendapatkan gelar tersebut dengan predikat sangat memuaskan.

Jenderal Moeldoko melaporkan total harta kekayaannya sebagaimana tercatat dalam dokumen pengumuman laporan harta kekayaan penyelenggara negara di Komisi Pemberantasan Korupsi berjumlah lebih Rp 36 miliar. Catatan kekayaan per 25 April 2012 saat Moeldoko menjadi Wakil Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional.

Jumlah itu terdiri dari harta tidak bergerak berupa tanah dan bangunan sebesar Rp 22,133 miliar. Harta bergerak berupa alat transportasi mobil Toyota Land Cruiser senilai Rp 1,7 miliar, peternakan Rp 1,2 miliar, serta logam mulia dan batu mulia senilai Rp 4,6 miliar. Juga berupa giro sebesar Rp 2,8 miliar dan 450.000 dollar Amerika Serikat (Rp 4,5 miliar), serta utang Rp 300 juta.

Dari mana sumber harta kekayaan Moeldoko sebesar itu, padahal dia cuma seorang tentara? Moeldoko pun membeberkan sumber kekayaannya. Dia menegaskan, semua kekayaan yang dimilikinya berasal dari sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Moeldoko menjelaskan bahwa penghasilannya meningkat setelah dirinya sering menjalankan tugas ke luar negeri. Moeldoko mendapatkan 125 dollar AS dalam satu hari tugas ke luar negeri. “Kan besar itu,” kata Moeldoko, Rabu (21/8/2013) sore kepada pers.

Namun, katanya, kekuatan finansialnya semakin kokoh karena dirinya menikahi seorang 
perempuan (Koesni Harningsih) yang berasal dari keluarga kaya. “Alhamdulillah, saya dapat istri anak orang kaya, kalau saya dikasih orangtua saya harta warisan kan boleh saja, masa tidak boleh?” kata Moeldoko. Setelah pernikahan itu, ungkapnya, oleh mertuanya, dia diminta untuk fokus menjalankan tugas di TNI. “Mertua saya pesan, ‘Kamu jangan mikirin yang lain, pikirin tugas dengan sebaik-baiknya, semua kita akan beresi’. Alhamdulillah kan itu,” katanya.