• Saturday, 25 March 2017

Gita Wirjawan

By , Siapalagi.com,
Hari ini
Mulai mencintai golf di usia 10 tahun dan mulai mencintai jazz di usia 13 tahun, kini seorang Gita Irawan Wirjawan (lebih dikenal sebagai Gita Wirjawan) menjadi nahkoda bagi bahtera perdagangan di Indonesia. Dengan latar belakang bisnis dan pasar modal yang cemerlang, ada harapan bahwa perjalanan bahtera perdagangan bangsa ini akan menjadi lebih mulus di bawah kendalinya, meski menghadapi berbagai badai perekonomian.
Gita Wirjawan lahir di Jakarta pada 21 September 1965. Ia menempuh pendidikan S-1 di Kennedy School of Government, Harvard University, Amerika Serikat pada 1992 dengan mengambil jurusan administrasi bisnis. Selepas S-1, ia berkarier sebagai seorang bankir di Citibank. Kecintaannya kepada musik membawanya manggung dari kafe ke kafe, hingga akhirnya pada tahun 1997 ia terpaksa menghentikan konser kafenya ini karena kesibukan. Pada tahun 2000, Gita berhasil menamatkan kuliah S2 nya di Harvard lalu bekerja di Goldman Sachs Singapura hingga tahun 2004.
Goldman Sachs adalah sebuah bank yang didirikan oleh Marcus Goldman. Pada tahun 2005 ia pindah bekerja ke ST Telekomunikasi, Singapura. Di perusahaan tersebut, ia bekerja selama kurang lebih satu tahun sebelum akhirnya berlabuh ke JP Morgan Indonesia. Dalam tugasnya sebagai Presdir JP Morgan Indonesia inilah Gita mencium adanya gelagat bakal terjadinya resesi ekonomi di Amerika, yang dampaknya akan meluas ke seluruh dunia.
Ia berusaha memberitahukan pandangannya tersebut kepada pemerintah, ekonom, serta kalangan pengusaha, namun tidak ada pihak yang menggubrisnya. Karena itulah ia berancang-ancang mendirikan perusahaan investasi sendiri dan mulai mempersiapkan dana untuk membeli saham-saham perusahaan yang diperkirakan akan jatuh terimbas krisis global nantinya. Tahun 2008, Gita mewujudkan ambisinya untuk mundur dari JP Morgan dan mendirikan Ancora Capital.
Perusahaan barunya ini berfokus pada investasi di sektor energi dan sumber daya alam. Tangan dinginnya mengelola Ancora harus diakui saat hanya dalam hitungan bulan, perusahaan ini mengambil alih sebagian saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk, PT Bumi Resources Tbk, PT Multi Nitrat Kimia, perusahaan properti di Jakarta, dan sebuah perusahaan properti di Bali.
Ancora Capital telah berhasil menghimpun dana investasi (private equity fund) dari para investor asal Timur Tengah, Malaysia, dan Brunei yang mencapai 300 juta dollar AS. Private equity fund yang dibentuk Ancora Capital ini merupakan private equity fund pertama yang didirikan dan memenuhi ketentuan syariah (sharia-compliant private equity fund). Pada 11 November 2009, Gita bergabung dengan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II sebagai Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM). Gita sukses membuktikan kepemimpinannya dengan meningkatnya realisasi investasi. Ia dianggap sebagai pemasar andal bagi investor asing untuk menanamkan modalnya di negeri ini.
Selanjutnya pada tahun 2011, ia mendapatkan kepercayaan yang lebih besar dengan ditunjuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menteri Perdagangan menggantikan Mari Elka Pangestu. Baru beberapa hari menjabat, Gita terlihat memiliki sikap yang tegas dan jelas terkait masalah produk impor. Prinsipnya, ia tidak setuju kalau impor justru menimbulkan ketergantungan. Selain itu, ia menyatakan akan berfokus pada perdagangan. Meski telah disibukkan oleh aktivitas pemerintahan dan bisnis yang begitu padat, Gita tidak bisa seratus persen pergi dari musik dan golf yang dicintainya. Ia juga memiliki label rekaman (Omega Pacific Production) yang telah menghasilkan beberapa album jazz dan pop.
Gita juga mendirikan Ancora Golf, sebuah sekolah golf untuk mencetak para pegolf muda berbakat yang memiliki fasilitas bagus dan di mana ia juga mendanai biaya hidup bagi para siswa di sana. Kepedulian Gita terhadap pendidikan salah satunya terwujud dengan mendirikan Ancora Foundation, sebuah yayasan yang bergerak di bidang kemanusiaan khususnya pendidikan. mendirikan Ancora Foundation memfokuskan diri pada donasi pendidikan untuk pemuda Indonesia dengan membuat beberapa program beasiswa untuk bersekolah di beberapa universitas ternama di dalam dan luar negeri.
Gita mengikuti konvensi calon presiden Partai Demokrat. Ia memutuskan ikut konvensi tidak ada pihak yang mendesak dia mundur dari jabatan Menteri Perdagangan. Gita mengaku keikutsertaan dalam konvensi capres adalah niat pribadi. Dia akan maksimal dan terus berusaha untuk bisa menjalani konvensi dengan baik.
GITA IRAWAN WIRJAWAN adalah salah satu calon Presiden Konvensi Partai Demokrat. Putra dari Wirjawan Djojosoegito (alm.) dan Paula Warokka Wirjawan ini dilahirkan pada tanggal 21 September 1965 di Jakarta, kemudian menikah dengan Yasmin Stamboel Wirjawan, cucu dari Raden Otto Iskandardinata, dan memiliki tiga anak yaitu Gian, Gibran dan Gia.

Sebelumnya menjabat sebagai Menteri Perdagangan Republik Indonesia dalam Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, pada tanggal 31 Januari 2014 Gita Wirjawan mundur dari jabatannya. Gita mengambil keputusan tersebut untuk menghindari konflik kepentingan, dan tidak dicap sebagai pejabat yang memanfaatkan fasilitas negara untuk tujuan politik.

Gita berharap keputusannya tersebut dapat menjadi teladan untuk pejabat publik lainnya. Bahkan, ia berpendapat bahwa kabinet pemerintahan seharusnya terdiri dari teknokrat (orang-orang non partai sepenuhnya). Fokus utama Gita saat ini adalah memenangkan Konvensi Partai Demokrat.

Gita Kecil

Terlahir berdarah Jawa-Manado. Almarhum Wirjawan Djojosoegito dan Paula Warokka Wirjawan berharap bungsu dari lima anak mereka adalah seorang perempuan. Mereka menyiapkan pernak-pernik baju bayi perempuan. Termasuk nama Gita. Tapi Tuhan berkehendak yang lahir adalah seorang lelaki pemimpin. Akhirnya diberilah dia nama ‘Gita Irawan Wirjawan’. Gita menghabiskan masa kecil di Jakarta. Masa kanak-kanak Gita seperti masa kecil anak-anak Indonesia pada umumnya.

Gita kecil jarang mandi. Rambutnya kribo dan senang berjalan ke sana kemari tanpa alas kaki alias ‘nyeker’. Dia pergi bersekolah di SD Budi Waluyo dan sempat menikmati menjadi siswa SMP Pangudi Luhur sebelum akhirnya pindah ke Bangladesh. Cita-cita kecilnya adalah menjadi seniman. Sejak kecil, dia sudah menunjukan ketertarikan pada musik dan olahraga, dua hal yang menjaga keseimbangan hidupnya.

Gita Remaja

Gita senang bermain basket, bulutangkis, renang dan sepak bola. Dia sempat serius bermain bulutangkis hingga pernah menjadi juara beberapa kompetisi bulutangkis regional di India. Kesenangannya bermain bulutangkis memberinya semangat dan bekal dalam memimpin PBSI. Kurang dari setahun, prestasi badminton Indonesia menunjukkan kebangkitan, terutama dalam ganda.

Awalnya dia tak tertarik musik sampai pada usia 13 tahun sang ayah memintanya belajar piano klasik. Dia kemudian tak sengaja mendengar musik yang diputar kakaknya. Dia menikmati Earl Klugh, Dave Brubeck, Wes Montgomery, Duke Ellington, hingga raja jazz Miles Davis hingga kini dia dikenal sebagai penikmat dan pemain musik handal.

Gita menghabiskan masa remaja di Bangladesh dan India mengikuti orang tuanya karena ayahnya yang dokter ahli kesehatan masyarakat diberi tugas sebagai perwakilan Indonesia di WHO. Di dua negara itu, dia serius memupuk cita-cita kecilnya menjadi seniman. Masa-masa sekolahnya dihabiskan untuk menekuni banyak pelajaran musik dan olahraga. Hingga akhirnya dia terbang ke Amerika Serikat untuk melanjutkan kuliah.

Gita Pelajar

Matematika dan musik adalah dua mata kuliah utama yang dipelajarinya di Amerika. Namun ibunya Paula Warokka tak suka dia belajar musik karena khawatir Gita tak mudah mencari kerja. Si bungsu ini pun banting stir mengambil kuliah ekonomi demi kecintaannya pada sang ibu.

Dia lulus Master of Business Administration di Baylor University, Amerika Serikat tahun 1989. Masa-masa hidup Gita tersulit adalah bertahan hidup dan meneruskan kuliah di Amerika Serikat. Ayahnya saat itu sudah pensiun dan memberinya bekal tidak lebih dari seperempat biaya kuliah di sana. Saat sulit, dia selalu teringat kata-kata Winnie the Pooh “You’re bigger than what you think you are”. Dia menunjukan ketangguhannya bertahan di masa sulit dengan memanfaatkan banyak kesempatan. Berbagai pekerjaan kasar pernah dia lakoni untuk mengumpulkan uang. Mulai menjadi pembersih toilet, pencuci piring di restoran, supir hingga sempat berjualan kulit ular.

Di sela-sela libur kuliah, dia juga rajin memberi les piano. Di situlah dia bertemu pertama kalinya dengan Yasmin Stamboel, cucu pahlawan Otto Iskandar Dinata yang kemudian menjadi istrinya. Berangkat dengan beasiswa musik, Gita berhasil pulang membawa kebanggaan ibunya dengan tiga gelar bidang akuntansi, adminstrasi bisnis dan ilmu administrasi publik. Dia lulus S-2 keduanya meraih Master of Public Administration (MPA) di Kennedy School of Government, Harvard University, Amerika Serikat pada tahun 2000.

Gita Muda

Berhasil meraih beasiswa musik untuk menempuh jenjang pendidikan tinggi, namun atas kehendak orang tua yang berkeinginan lain, Gita mendapatkan Bachelor Degree in Accounting (BBA) di University of Texas, Austin, Amerika Serikat pada tahun 1988. Lulus sebagai akuntan, Gita meraih lisensi Certified Public Accountant untuk negara bagian Texas.

Untuk memperluas pengetahuannya, Gita melanjutkan pendidikan Master of Business Administration (MBA) di Baylor University, Amerika Serikat, pada tahun 1989 dan Master of Public Administration (MPA) di Kennedy School of Government, Harvard University, Amerika Serikat pada tahun 2000.

Mengawali karirnya sebagai Direktur Corporate Finance di PT Bahana Securities, anak perusahaan dari PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero). Keterlibatannya dalam Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga ditunjukkan Gita di PT Pertamina (Persero) dimana ia menjabat sebagai Komisaris Independen. Selain itu, Gita juga pernah memegang jabatan kunci di beberapa bank investasi ternama dunia seperti Goldman Sachs dan JPMorgan.

PENDIDIKAN
  • S-2 di Harvard University, lulus 2000
  • Kennedy School of Government,
  • Harvard University, 1992
KARIR
Goldman Sachs, 2001-2004 ST Telekomunikasi, Singapura, 2005-2006 Presdir JP Morgan Indonesia, 2006-2008 Anggota Dewan Direktur Independen di Telekom Malaysia International Komisaris Pertamina Pendiri Ancora Capital (2008), Ancora Golf, Omega Pacific Production, Ancora Foundation Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM), 2009-2011 Menteri Perdagangan (2011)