• Friday, 28 April 2017

B.J HABIBIE Sang Jenius Anak Bangsa

By , Siapalagi.com,
Hari ini

Siapa tak mengenal Bacharudin Jusuf Habibie yang biasa dipanggil dengan BJ Habibie sang bapak Technologi. Terlahir di Parepare Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936. Ia terlahir dalam keluarga yang sederhana. Ayahnya bernama  Alwi Abdul Jalil Habibie  yang berprofesi sebagai ahli pertanian berasal dari etnis Gorontalo dan memiliki keturunan Bugis, sedangkan ibunya beretnis Jawa. R.A. Tuti Marini Puspowardojo adalah anak seorang spesialis mata di Yogya, dan ayahnya yang bernama Puspowardjojo bertugas sebagai pemilik sekolah. B.J. Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962, dan dikaruniai dua orang putra, yaitu Ilham Akbar Habibie dan Thareq Kemal Habibie. 

Sejak kecil beliau telah membangun masa depannya yang cemerlang baik dari segi spiritual maupun intelektual. Belajar, membantu orang tua, mengaji dan shalat merupakan rutinitas sehari-hari yang tak pernah ditinggalkan. Oleh sebab itu, sejak duduk di bangku sekolah beliau adalah murid yang jenius, ramah, sopan dan tidak sombong. Sehingga pelajaran eksakta yang sulit seperti, matematika, fisika, kimia, stereo dan geneo dalam sekejap dapat diselesaikan dengan nilai yang baik sekali. Namun sejak 3 September 1950, bapak beliau meninggal karena mengalami serangan jantung ketika menunaikan shalat Isya’. Dengan perasaan duka yang mendalam R.A Tuti Marini menadahkan tangan kepada Allah untuk meminta ketabahan dalam menghadapi hari-hari selanjutnya. Setelah beberapa saat setelah kematian suaminya beliau langsung memutuskan kepada anak laki-laki pertamanya yaitu Habibie untuk pindah ke Jawa (Bandung) agar dapat meneruskan pendidikannya.

tutimarini-dan-anak2

foto habibie dan keluarganya sewaktu ia masih kecil bersama ibu dan saudaranya

Selama ditinggal oleh suami tercintanya, Ibu Tuti marini (ibu b.j. habibie) berjuang keras menghidupi anak”nya sendirian dan bertekad untuk kesuksesan anak”nya. Ia yang waktu itu mengandung delapan bulan berteriak-teriak dan bersumpah di depan jasad Alwi Jalal Habibie suaminya, bahwa cita-cita suaminya terhadap pendidikan anak-anaknya akan diteruskan. Sumpah itu tidak sia sia dan terbukti bahwa ia sukses mendidik anak”nya sehingga anak”nya sukses termasuk b.j Habibie. Habibie adalah salah satu contoh kusesksan ibu Tuti Marini dalam mendidik anak”nya yang tidak hanya sukses dalam segi pendidikan saja, namun dalam segi tata perilaku dan akhlak agama yang sangat tekun.

Hari hari libur bukan liburan bagi beliau justru kesempatan emas yang dia isi dengan ujian dan mencari uang untuk membeli buku. Sehabis masa libur, semua kegiatan disampingkan kecuali belajar. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, mereka lebih banyak menggunakan waktu liburan musim panas untuk bekerja, mencari pengalaman dan uang tanpa mengikuti ujian.Pemikirannya dan kerja kerasnya dalam belajar  teknik mesin di Universitas Indonesia Bandung (Sekarang Institut Teknologi Bandung) tahun 1954. Pada 1955-1965. Ia melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, menerima gelar Diplom Ingenieur pada 1960 dan gelar Doktor Ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude.

Tak hanya handal dalam bidang teknologi, mantan sosok RI 1 ini sangat kompeten dalam bidang ekonomi.

Hal itu dibuktikan ketika krisis moneter 1998 melanda Indonesia menyebabkan inflasi besar-besaran dan menjadikan nilai tukar rupiah melemah pada kisaran Rp 15.000 per US$ nya. Namun dengan langkah kebijakan jenius nya, beliau mampu menjadikan nilai tukar rupiah meroket pada kisaran Rp 6.500 per US$ nya. Sangat fantastis dan luar biasa, namun sangat disayangkan ketika Habibie tak lagi eksis dalam dunia pemerintahan sampai dengan saat ini nilai tukar rupiah terus melemah bahkan sampai pada angka Rp 13,000.

 

Rumus Faktor Habibie

Rumus yang di temukan oleh Habibie dinamai “Faktor Habibie” karena bisa menghitung keretakan atau krack propagation on random sampai ke atom-atom pesawat terbang sehingga ia di juluki sebagai “Mr. Crack”. Pada tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung. dari tempat yang sama tahun 1965. Kejeniusan dan prestasi inilah yang mengantarkan Habibie diakui lembaga internasional di antaranya, Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Aeronautical Society London (Inggris), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l’Air et de l’Espace (Prancis) dan The US Academy of Engineering (Amerika Serikat). Sementara itu penghargaan bergensi yang pernah diraih Habibie di antaranya, Edward Warner Award dan Award von Karman yang hampir setara dengan Hadiah Nobel. Di dalam negeri, Habibie mendapat penghargaan tertinggi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana.

 

habibie-dan-ainun-6

habibie dan ainun ketika masih muda

 

Langkah-langkah Habibie banyak dikagumi, penuh kontroversi, banyak pengagum namun tak sedikit pula yang tak sependapat dengannya. Setiap kali, peraih penghargaan bergengsi Theodore van Karman Award, itu kembali dari “habitat”-nya Jerman, beliau selalu menjadi berita. Habibie hanya setahun kuliah di ITB Bandung, 10 tahun kuliah hingga meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Lalu bekerja di industri pesawat terbang terkemuka MBB Gmbh Jerman, sebelum memenuhi panggilan Presiden Soeharto untuk kembali ke Indonesia.

Tahun 1978 hingga 1997, Beliau diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus merangkap sebagai Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Selama menjadi menteri, Habibie juga diangkat sebagai ketua ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) yang kemudian menginspirasi beliau untuk mendirikan sekolah setingkat SMA (Sekolah Menengah Atas), yang berorientasi kepada nilai-nilai IMTAK (iman dan taKwa) dan IPTEK (Ilmu pengetahuan dan teknologi). Sekolah tersebut sampai saat ini masih sangat eksis dan kental dengan nila-nilai keilmuwan, Yaitu MAN Insan Cendekia Serpong dan MAN Insan Cendekia Gorontalo (penulis juga alumni dari sekolah mulia ini).

Selanjutnya peran Habibie yang paling memuaskan adalah dalam industri pesawat terbang indonesia, yaitu IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara) dan beliau sebagai presiden direkturnya.

Hal yang paling membanggakan dalam segala proyek IPTN adalah semua tenaga profesional nya adalah anak-anak bangsa yang memiliki keahlian yang luar biasa. Sehingga produk IPTN mampu bersaing dikancah penerbangan dunia internasional.

 

Siapa yang tak kenal N-250 yang merupakan produk pesawat terbang primadona hasil produksi IPTN pada waktu itu. N-250 dibuat dalam usaha merebut pasar di kelas 50-70 penumpang dengan keunggulan yang dimiliki di kelasnya (saat diluncurkan pada tahun 1995). Sekaligus menjadi bintang pameran pada saat Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng. Habibie adalah ilmuwan pemegang 46 hak paten dibidang Aeronautika.

 

106955_pesawat-n-250_663_382

pesawat pertama yang dibuat oleh B.J Habibie untuk bangsa

” ….Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun “

 

terucap dari mulut habibie kepada presiden soeharto yang begitu yakin dengan proyek pesawat N250 akan berhasil. Namun apadaya keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!

Sebagian Karya beliau dalam menghitung dan mendesain beberapa proyek pembuatan pesawat terbang :

  • VTOL ( Vertical Take Off & Landing ) Pesawat Angkut DO-31.
  • Pesawat Angkut Militer TRANSALL C-130.
  • Hansa Jet 320 ( Pesawat Eksekutif ).
  • Airbus A-300 ( untuk 300 penumpang )
  • CN – 235
  • N-250

Dan secara tidak langsung turut berpartisipasi dalam menghitung dan mendesain:

  • · Helikopter BO-105.
  • · Multi Role Combat Aircraft (MRCA).
  • · Beberapa proyek rudal dan satelit.

Sebagian Tanda Jasa/Kehormatan B.J Habibie :

  • 1976 – 1998 Direktur Utama PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara/ IPTN.
  • 1978 – 1998 Menteri Negara Riset dan Teknologi Republik Indonesia.
  • Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi / BPPT
  • 1978 – 1998 Direktur Utama PT. PAL Indonesia (Persero).
  • 1978 – 1998 Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam/ Opdip Batam.
  • 1980 – 1998 Ketua Tim Pengembangan Industri Pertahanan Keamanan (Keppres No. 40, 1980)
  • 1983 – 1998 Direktur Utama, PT Pindad (Persero).
  • 1988 – 1998 Wakil Ketua Dewan Pembina Industri Strategis.
  • 1989 – 1998 Ketua Badan Pengelola Industri Strategis/ BPIS.
  • 1990 – 1998 Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim se-lndonesia/lCMI.
  • 1993 Koordinator Presidium Harian, Dewan Pembina Golkar.
  • 10 Maret – 20 Mei 1998 Wakil Presiden Republik Indonesia
  • 21 Mei 1998 – Oktober 1999 Presiden Republik Indonesia.

 

Sumpahku

” Terlentang, Jatuh, Perih, Kesal

Ibu Pertiwi Engkau Pegangan

Janji pusaka dan sakti

Tanah tumpah darahku

Makmur dan suci

Hancur badan

Tetap berjalan

Jiwa besar dan suci

Membawa aku padamu

Padamu Indonesia

Makmur dan suci “

sumpah presiden Republik Indonesia ke-3 Bacharudin Jusuf Habibie untuk negeri tercintanya Indonesia Raya